Rabu, 18 Mei 2011

Apakah mungkin bridge diajarkan di sekolah

                       BRIDGE, MUNGKINKAH DIAJARKAN DISEKOLAH ?
                   
                                             Oleh :  Liliek Sudirahardjo


RUNNER UP OLIMPIADE 1998 DAN JUARA DUNIA 2000.

Dalam kurun waktu 50 tahun terakhir, perkembangan bridge dari hanya sekedar permainan kartu kaum selebritis diwaktu senggang hingga menjadi olah raga yang digemari oleh berbagai lapisan sedemikian pesatnya. Berbagai cara bermain, sistem penilaian dan sistem pertandingan dan hadiah yang disediakan menyebabkan olah raga otak ini semakin menarik, menantang dan puncaknya diakui sebagai salah satu cabang olah raga dalam jajaran olah raga fisik, selain catur tentunya yang telah mensejajarkan dirinya puluhan tahun yang lalu. Permainan kartu yang akhirnya menjadi cabang olah raga ini akhirnya memiliki even Kejuaraan Dunia Resmi (Granprix IOC) dan Olimpiade sendiri.

Berapa medalikah yang berhasil dibawa oleh atlit-atlit olah raga Indonesia dari event-event dunia resmi seperti Kejuaraan Dunia atau Olimpiade semenjak diselenggarakannya? Rasanya masih dapat dihitung dengan jumlah jari kita. Dari cabang bulu tangkis, jelas memang ini lahan kita,ancaman bahaya tahun-tahun akhir ini dari negara-negara seperti Cina, Malaysia, Denmark dan jangan lupa menyebut Thailand, India atau bahkan Inggris sebagai negara asal olah raga ini, semenjak hijrah dan transfer pemain diakui secara profesional, adalah ancaman menurunnya perolehan medali dari cabang favorit ini. Sayangnya, dari cabang lain kita tidak mampu banyak berbuat, kecuali cabang panahan pada Olimpiade Seoul 1996 dengan medali perak dan cabang bridge yang pada Olimpiade pertamanya di Paris, Perancis pada tahun 1998, medali perak berhasil diraih oleh atlit-atlit Indonesia. Bahkan puncaknya di Grandprix IOC 2000 di Maastrich, Belanda, Indonesia menjadi Juara Dunia dengan melahap Amerika disemifinal dan menelan Perancis difinal!. Ingat, dua-duanya adalah Superstar-Superstar bridge dikolong langit ini!

Artinya, bangsa yang makanpun masih susah, GNP perkapita dibawah 1000 dolar Amerika dan hutangnya 1200 trilyun rupiah, punya potensi besar dalam cabang olah raga bridge! Kalau bulu tangkis punya Maestro Rudi Hartono, Lim Swie King, Icuk Sugiarto, Susi Susanti dan belasan bintang-bintang lainnya, panahan punya Lisa Handayani dkk., maka bridgepun punya pahlawan-pahlawan tak dikenal peraih perak Olimpiade dan penyandang gelar Juara Dunia atas nama-nama Henky Lasut, Eddy Manoppo, Denny Sakul, Franky Karwur,Robert Tobing, Taufik Asbi dkk.


KENAPA KURANG POPULER, APA LEBIH SULIT?

Persoalannya adalah, seperti pada umumnya nasib olah raga yang lain, kurangnya perhatian pemerintah oleh berbagai sebab klasik; terbatasnya anggaran, kurangnya pembinaan, amatirisme dan, salah urus! Akibatnya jelas, pemasyarakatan olah raga, khususnya bridge terseok-seok, sesak napas dan jauh kalah populer dengan catur semenjak GM Utut Adianto disekondani Eka Putra Wirya mewabahi Jakarta dengan catur cepat, catur buta, catur master, catur kampung, sekolah catur dan akhirnya kita memiliki The Indonesian Dream Team seperti layaknya Amerika, yang GNP perkapitanya diatas 25.000 dolar, dengan NBAnya. Hasilnya cukup nyata. Catur semakin populer dan digemari. Kita pernah merasakan punya GM Super, elo rating diatas 2600 (dulu, sekarang apa kabar mas Utut?), beberapa GM baru dan pasukan yunior yang saya yakin tidak lama lagi akan mengorbit bagaikan bintang-bintang dilangit (Catatan; asal tidak salah urus).

Lantas pertanyaannya adalah, kalau catur bisa (kalau bulu tangkis sih harus bisa, dan Angie dicabang tenis masih bisa diusahakan), kenapa bridge yang sama-sama olah raga otak tidak mampu? Coba perhatikan perbandingan sederhana berikut ini. Keduanya merupakan olah raga otak atau pikiran. Keduanya dapat dipertandingkan secara duel-meet atau rame-rame dengan sistem gugur atau sistem Swiss. Dan yang paling penting, modal olah raga ini hampir-hampir dapat dikatakan modal dengkul. Kalau catur hanya butuh papan dan buah catur yang dapat dipakai ribuan kali, maka bridge lebih murah lagi, hanya perlu satu pak kartu yang terdiri dari 52 daun 4 warna, yakni waru (spade), hati (heart), wajik (diamond) dan semanggi (kriting, clover atau club).

Sekarang kita lihat, kenapa catur lebih memasyarakat dan populer sedang bridge hanya dimainkan kelompok tertentu, khususnya menengah keatas, dan susah berkembang. Kemungkinan jawabannya adalah karena pertama catur sifatnya lebih individual, sedang bridge sifatnya lebih berkelompok, minimal berdua atau berpasangan. Kemungkinan kedua adalah meskipun jumlah kotak pada papan catur ada 64, tetapi varian permainan pembukaan, permainan tengah dan akhir lebih terbatas, lebih terukur (predictable) dan buah caturnya kelihatan didepan mata. Sedangkan bridge mempunyai sistem penawaran, sistem permainan penyerang (declarer), sistem pertahanan (defender) yang hampir tak terukur dan kartu lawan maupun kawan tidak kelihatan alias tertutup. Kenapa kelihatannya sulit? Ternyata varian pembagian (distribusi) 52 lembar kartu untuk 4 orang pemain memang luar biasa banyaknya. Seorang ahli matematika pernah menghitung kemungkinan distribusi ke 4 tangan tersebut mencapai angka 10 pangkat 54 (angka 1 dengan 54 angka 0 dibelakangnya!). Jadi lebih sulit dong? Jawabnya adalah sulit kalau kita belum mengenal dan menyukainya, mudah jika kita sudah mengenal dan menyukainya. Rasanya jauh lebih susah menghitung jumlah partai politik peserta Pemilu dan jumlah konglomerat hitam dalam kasus BLBI.


BRIDGE BAGIAN DARI KURIKULUM SEKOLAH, KENAPA TIDAK?

Permainan bridge memiliki berbagai aspek menarik baik dilihat dari segi pendidikan maupun pergaulan sosial. Permainan ini mengajak kita untuk berpikir logis berdasarkan hitungan-hitungan (sebetulnya perkiraan) matematik sederhana, guna mencapai tujuan tertentu (jumlah trik atau ambilan) sesuai dengan kemampuan kita, dilakukan melalui jembatan komunikasi (bridge) dengan sejumlah kesepakatan (sistem penawaran) yang telah disetujui berdua. Dalam proses komunikasi itulah proses pendidikan (kecerdasan, ketelitian), proses pembinaan karakter (disiplin, kebersamaan, tenggang rasa, tidak egois) dan proses pembinaan etika (tidak bohong, tidak curang dan menghormati lawan) berlangsung.

Usia yang dianggap cukup untuk memulai belajar bermain bridge mungkin adalah sekitar 10 tahun, ini berarti sekitar usia sekolah klas 4 SD. Sebagai tahap awal bridge dapat dijadikan pelajaran ekstra kurikuler, dengan mengambil guru dari pemain-pemain bridge setempat. Mereka yang biasa duduk didepan komputer dan biasa ngeklik Windows, Program, Assesories, Game, pasti akrab dengan Heart atau Solitaire. Tambahkan permainan-permainan Minuman (Ambilan), Truf dan akhirnya Bridge, maka dijamin anak-anak akan lebih suka bermain bridge daripada tawuran atau bernarkobaria.

Mau tahu nikmatnya bermain bridge? Tanya sama Pak Deng Xiao Ping almarhum yang masih bermain pada usia 88 tahun disela-sela kesibukannya ngurusin makannya 1 milyar lebih penduduk RRC, atau pada Pak Omar Sharief, bintang film Amerika asal Mesir simaniak bridge nomer 1 didunia, yang sering mengajak jago-jago dunia untuk bermain bersama dikapal pesiarnya, yang tentunya cukup mewah, dan disediakan pula hadiah bagi para pemenangnya. Pada tahun 2000 diusianya yang ke 70 ketika keluar dari rumah sakit sehabis operasi jantung, Pak Omar ini ditanya sama wartawan; “Apa yang ingin anda lakukan sekeluar anda dari rumah sakit ini?” Pak Omar menjawab;”Bermain bridge semalam suntuk!”


Penulis adalah atlit bridge
Tinggal di Bandung

 sumber

0 komentar

Posting Komentar